Sabtu, 24 Desember 2016

budaya lokal

1.      Pengertian Kebudayaan lokal

Kebudayaan secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah”, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal.Sedangkan ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E.B. Tylor dalam buku yang berjudul “Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang di dalamnya terkandung ilmupengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat. Pada sisi yang agak berbeda, Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata  kelakuan yang harus didapatkanya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupanan
masyarakat.
Masyarakat terbentuk melalui sejarah yang panjang, perjalanan berliku, tapak demi tapak, trial and error. Pada titik-titik tertentu terdapat peninggalan-peninggalan yang eksis atau terekan sampai sekarang yang kemudian menjadi warisan budaya. Warisan budaya, menurut Davidson (1991:2) diartikan sebagai ‘produkatau hasil budaya fisik dari tradisi-tradisi yang berbeda dan prestasi-prestasi spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu yang menjadi elemen pokok dalam jatidiri suatu kelompok atau bangsa’. Jadi warisan budaya merupakan hasil budaya fisik (tangible) dan nilai budaya (intangible) dari masa lalu. Nilai budaya dari masa lalu (intangible heritage) inilah yang berasal dari budaya-budaya lokal yang ada di Nusantara, meliputi: tradisi, cerita rakyat dan legenda, bahasa ibu, sejarah lisan, kreativitas (tari, lagu, drama pertunjukan), kemampuan beradaptasi dan keunikan masyarakat setempat (Galla, 2001: 12) Kata lokal disini tidak mengacu pada wilayah geografis, khususnya kabupaten/kota, denganbatas-batas administratif yang jelas, tetapi lebih mengacu pada wilayah budaya yang seringkali melebihi wilayah administratif dan juga tidak mempunyai garis perbatasan yang tegas dengan wilayah budaya lainnya. Kata budaya lokal juga bisa mengacupada budaya milik penduduk asli (inlander) yang telah dipandang sebagai warisan budaya. Berhubung pelaku pemerintahan Republik Indonesia adalah bangsa sendiri, maka warisan budaya yang ada menjadi milik bersama. Ini berbeda situasinya dengan Negara Australia dan Amerika yang warisan budayanya menjadi milik penduduk asli  secara eksklusif sehingga penduduk asli mempunyai hak untuk melarang setiap kegiatan pemanfaatan yang akan berdampak buruk pada warisan budaya mereka (Frankel, 1984).

Kamis, 26 November 2015

laporan hasil penelitian mithoni



BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar belakang
Dalam kehidupan masyarakat tentunya tidak lepas dari suatu kebudayaan atau tradisi, dimana kebudayaan tersebut dihasilkan oleh masyarakat sendiri. Kebudayaan muncul merupakan hasil prilaku masyarakat yang sering kali dilakukan. Kebudayaan merupakan cerminan dari identitas atau ciri khas suatu masyarakat tertentu.
Mengutuip dari kebudayaan menurut Koentjaraningrat “kebudayaan adalah seluruh gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Serta dari kebudayaan dapat tampak suatu watak (ethos). Seperti yang tampak misalnya, gaya tingkah laku, atau benda-benda hasil karya asyarakat.
Suatu tradisi merupakan warisan nenek moyang secara temurun dan tentunya memiliki makna dan tujuan tersendiri. Kepercayaan nenek moyang yang kental tentu mempengaruhi bagaimana tradisi itu tercipta bahkan hingga kini masih dipertahankan, walaupun kebudayaannya sudah bercampur dengan kebudayaan lainnya. Adapun kepercayaan nenek moyang tentang kekuatan (animisme, dinamisme), dan adapula tradisi masyarakat berupa upacara adat istiadat.

2.      Rumusan masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah di papar di atas saya akan mengangkat beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1.      Bagaimana tradisi nujuh bulanan di kampung sempu bisa muncul ?
2.      Mengapa tradisi itu dipertahankan ?
3.      Bagaimana tatacara melakukan tradisi tersebut ?
4.      Kaitan Nujuh Bulan Dengan Ajaran Islam ?

3.      Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ni dilakukan diantaranya, adalah Untuk mengetahui tradisi yang ada di kampung sempu ini yang menjadi identitas atau ciri khas disana.
Untuk mengetahui mengapa trdisi nujuhbulanan ini muncul di kampung tersebut.
Mengetahui makna atau arti penting dari sebuah tradisi yang ada di kampung tersebut

4.      Manfaat penelitian
Dari tujuan di adakannya penelitian, maka adapun manfaat penelitiannya adalah sabagai berikut :
Bagi saya sendiri, dapat mengetahui sebuah tradisi yang ada di kampung ini, sehingga dapat saya cirikan bahwa tradisi nujuhbulanan ada di sini.
Memotivasi bagi masyarakat agar dapt menjaga sebuah tradisi atau kebudayaan yang ada agar tidak hilang dimakan oleh, dan tetap diturunkan kepada anak cucunya.
Perlunya sebuah kesadaran dan kepedulian terhadap kebudayaan.

5.      Metode penulisan
Untuk mendapatkan informasi dan data yang diperlukan, penulis melakukan metode, wawancara dan kepustakan internet.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.      KAJIAN TEORI

1.1  Definisi kebudayaan
Kebudayaan adalah seluruh gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang di hasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Serta dari kebudayaa dapat tampak suatu watak (ethos). Seperti yang tampak misalnya, gaya tingkah laku, atau benda-benda hasil karya masyarakat. Sedangkan tradisi dalam bahasa latin “traditio” artinya “diteruskan”. Tradisi adalah kebiaasaan yang dianut oleh masyarakat danberlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.
Tradisi nujuh bulan diartikan sebagai upacara sedekah makanan dan doa bersama, yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketenraman untuk keluarga yang menyelenggarakan.
Selametan sendiri berasal dari kata selamet, yang berarti selamat, bahagia, sentausa. Selamat dapat dimaknai sebagai keadaan yang lepas dari keadaan-keadaan yang tidak dikehendaki. Sehingga selametan bisa diartikan sebagai kegiatan masyarakat yang biasanya di gambarkan sebagai pesta ritual, baik upacara dirumah maupun di desa. Upacara slametan termasuk kegiatan batiniah yang bertujuan untuk mendapatkan ridho dar Tuhan. Kegiatan slametan menjadi tradisi hampir seluruh kehidupan di pedusunan Jawa. Bahkan ada yang mempercayai bahwa slametan adalah syarat spiritual yang wajib dilakukan dan jika dilanggar akan mendapatkan ketidakberkahan atau kecelakaan.
Selametan nujuh bulan bisa disebut dengan mithoni atau tingkeuban. Disebut mithoni, karena upacara dilaksanakan pada saat kandungan berusia 7 bulan. Dalam bahasa jawa tujuh adalah pitu maka jadilah sebutan mithoni. Disebut tingkeuban yakni, slametan kehamilan usia 7 bulan dimana “sudah tingkeb” yang artinya ” tutup” , maksudnya si bu yang sedang mengandung 7 bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalina, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang sedang di kandung sudah mulai besar. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selametan bulan ke tujuh kehamilan biasanya dilakukan oleh orang jawa yang sering disebut tradisi mithoni. Tujuan utama tradisi slametan nujuh bulan yang sudah berlangsung turun-temurun ini adalah memohon kepada Tuhan agar ibu yang hamil dan bayi dalam kandungannya selamat hingga lahir.

1.2  Asal Usul Selamatan Nujuh Bulan
Tradisi nujuh bulanan yaitu upcara tradisional selametan terhadap bayi yang masih di dalam kandungan selama tujuh bulan. Tradisi ini berawal dari pemerintahan Jayabaya. Pada waktu itu ada seorang wanita yang bernama niken satingkeb bersuami seorang pemuda bernama sadiya. Keluaga ini telah melahirkan anak sebanyak sembilan kali, namun satupun tidak ada yang hidup. Karena itu keduanya segera menghadap raja kediri, yaitu Prabu Widayaka (Jayabaya). Oleh sang raja keluarga tersebut disarankan agar menjalankan tiga hal, yakni : setiap hari Rabu dan Sabtu, pukul 17.00, diminta mandi menggunakan tengkorak kepala, sambil mengucap mantera : “hong hyang hyanging amarta martini sinartan huma, hananingsun hiya hananing jatiwasesa. Wisesaning hyang iya wisesaningsun. Ingsun pudya sampurna dadi manungsa”.
Setelah mandi lalu ganti pakaian yang bersih, cara berpakaian dengan cara menggembol kepala gading yang dihiasi Sanhyang Kamajaya dan Kamaratih atau Sanghyang Wisnu dan Dwi Sri, lalu dibrojolkan ke bawah. Kepla muda tersebut diikat, menggunakan daun tebu tulak (hitam dan putih ) selembar. Setelah kelapa gading tadi diberojolkan, lalu diputuskan menggunakan sebilah keris oleh suaminya.
Ketiga hal di atas, tampaknya yang menjadi masyarakat ini menjalankan selamatan tingkeban sampai sekarang. Sejak saat itu ternyata Niken bisa hamil dan anaknya hidup. Hal ini merupankan lukisan bahwa orang yang ingin mempunyai anak, perlu melakukan kesucian atau kebersihan. Niken satingkeb sebagai wadah harus suci, tidak boleh ternoda, maka dari itu harus dibersihkan dengan mandi keramas. Akhirnya sejak saat itu apabila ada orang hamil, apalagi hamil pertama, dilakukan tingkeban atau mithoni. Tradisi ini merupakan langkah permohonan dalam selametan.
Batas tujuh bulan, sebenarnya merupakan simbol budi pekerti agar hubungan suami istri tidak lagi dilakukan agar anak yang akan lahir tidak terganggu.
1.3  Tatacara Selametan Nujuh Bulan
Mithoni atau selametan tujuh bulanan, dilakukan setelah kehamilan seorang ibu genap usia 7 bulan atau lebih. Dilaksanakan tidak boleh kurang dari 7 bulan, sekalipun kurang sekali. Tujuan mithoni agar supaya ibu dan janin selalu di jaga dalam kesejahteraan dan keselamatan.
Mithoni tidak dapat diselenggarakan sewaktu-waktu, biasanya memilih hari yang dianggap baik untuk menyelenggarakan upacara mithoni. Hari baik untuk acara mithoni adalah hari selasa (senin siang sampai malam), atau sabtu (jumat siang sampai malam) dan diselenggarakan pada waktu siang atau sore hari. Sedangkan tempat untuk menyelenggarakan upacara biasanya di ruang keluarga atau ruang yang mempunyai luas yang cukup untuk menyelenggarakan upacara.
Pertama, pengajian dengan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, terutama surat Yusuf dan surat Mariyam, serta memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembacaan surat Yusuf dimaksudkan agar bayi yang akan lahir kelak akan meneladani sifat-sifat Nabi Yusuf, serta memiliki paras yang rupawan seperti Nabi Yusuf jika laki-laki. Sedangkan dibcakannya surat Mariyam agar bayi yang akan di lahirkan kelak memiliki paras cantik seprti Mariyam.
Kedua, siraman yang dilakukan oleh sepupu dan suami. Tradisi siraman ini dilakukan dengan cara memandikan wanita hamil menggunakan sekar setaman oleh para sepupuh. Sekar setaman adalah air suci yang diambil dari tujuh mata air yang kemudian dicampurkan dengan bunga. Sepupuh yang bertugas menyiram tujuh orang di tambah suaminya sendiri. Siraman merupakan gambaran agar kelahiran bayi kelak suci bersih. Bilangan tujuh, sebernanya terkait dengan umur kandungan tujuh bulan. Tujuh juga berasal dari bahsa Jawa “pitu”, berati “pitulung” artinya, agar kalak bayi dapt lahir dengan mendapat pertolongan Tuhan.
Ketiga, setelah siraman selesai, dilakukan tradisi memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain wanita hamil oleh sang suami melalui perut sampai menggelinding ke bawah dan pecah. Hal ini sebagai simbol dan harapan semoga bayi yang akan lahir mendapat kemudahan, seperti menggelindingnya telur tadi. Pecahnya telur juga berarti keluarnya bayi dari kandungan ibu. Hal ini tidak jauh dengan seekor ayam yang menetas dari sbuah telur, bayi pun setelah bertapa dalam kandungan ibu  lalu ia keluar. Kadang-kadang jika sulit mendapatkan telur, di ganti dengan tropong (alat untuk mengikat benang tenun). Hal ini juga berarti supaya ketika bayi lahir mudah tidak ada halangan.
Keempat, upacara ganti pakaian 7 kali dengan 7 motif yang berbeda, calon ibu mengenakan kain putih sebagai dasar pakaian pertma, kain tersebut melambangkan bahwa bayi yang dilahirkan suci dan mendapat berkah dari Tuhan.
Kelima, kenduri sebagai syukuran. Ada beberapa sasaji yang harus di siapkan:
a.       Bubur 7 macam
b.      Gudangan mateng (sayuran direbus)
c.       Nasi megono; nasi dicampur bumbu gudangan pedes lalu dikukus
d.      Jajanan pasar; berisi 7 macam makanan
e.       Rujak 7 macam buah-buahan
f.       Tumpeng nasi putih
g.      Telur ayam 7 butir
h.      Pisang raja
i.        Tumpeng 7 macam warna
Setelah itu di makan bersama oleh para tamu yang hadir di acara selametan nujuh bulan yang diadakan oleh tuan rumah.


1.4  Makna yang terkandung dalam unsur mithoni atau nujuh bulanan bagi masyarakat kampung sempu
Upacara-upaca mithoni, yaitu upacara yang diselenggarakan ketika kandungan berusia tujuh bulan, yang menjadikan tradisi ini bisa bertahan karena didalamnya menganut yang baik, dan menurutnya apa salahnya memohon pertolongan atau berdoa bersama, sama-sama mendoakan supaya bayi yang ada di dalam kandungan diberikan kesehatan dan keselamatan sampai ia dilahirkan.
memiliki simbol-simbol atau makna sebagi berikut :
a.       Sajen tumpeng, maknanya adalah pemujaan pada arwah leluhur yang sudah tidak ada.
b.      Sajen gudangan, maknanya adalah agar calon bayi selalu dalam keadaan segar
c.       Kain dengan tujuh motif, melambangkan kebaikan yang diharapkan bgi ibu yang mengandung
d.      Sajen telur, berupa ramalan, bahwa kalau telur pecah, maka bayi yang lahir adalah perempuan dan jika tidak pecah maka bayinya laki-laki

1.5.Tujuan Dan Manfaat Diadakan Nujuh Bulan
Memohon keselamatan kepada Allah SWT, dan bermanfaat agar anak yang dikandung akan lahir dengan gangsar (mudah), sehat, selamet, fisik yang sempurna, dan tidak ada gangguan apa-apa. Selametan ini juga akan membuat ibu hamil percaya diri, menguatkan ibu dalam masa transisi perubahan peran menjadi seorang ibu, merubah cara pandang ibu terhadap perubahan tubuh selama kehamilan, meningkatkan rasa aman dan ras dihargai.

1.6. Kaitan Nujuh Bulan Dengan Ajaran Islam
Secara nyata di dalam al-Qur’an tidak ada petunjuk untuk melakukan tradisi tersebut, sehingga ada yang mengatakan bid’ah atau sesat. Sebenarnya pelaksanaan mithoni berangkat dari memahmi hadits Nabi yang diriwayatkan oleh bukhori, yang menjelaskan tentang proses perkembangan janin dalam rahim. Dalam hadis tersebut dinyatakan bahwapada saat janin berumur 120 hari (4 bulan) dalam kandungan ditiupkan ruh dan di tentukan 4 perkara, yaitu umur, jodoh, rizki, dan nasibnya. Sekalipun dalam hadits tersebut tidak ada perintah untuk melakukan ritual, tetapi untuk memehon pertolongan pada saat itu tidak dilarang.


BAB III
METODE PENELITIAN

1.      Definisi Metode Penelitian
Metode ( yunani : metodos, metode) adalah cara atau jalan, yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan .( Koentjaraningrat, metode-metode penelitian masyarakat, garmedia.1997: hl.16).
Metode merupakan aspek yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian, terutama untuk mengumpulkan data. Sebab data yang diperoleh dalam suatu penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian.
Menurut Hadi, penelitian adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Dengan upaya mendapatkan dan mengumpulkan data dari kegiatan penelitian.

2.      Pendekatan Dalam Penelitian
Dalam penelitian pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Dimana data yang dikumpulkan bukan merupakan angka-angka, melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara. Sehingga dalam penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita dibalik fenomena.
Menurut Keirl dan Meiller dalam Moleong yang di maksudkan dengan Penelitian Kualitatif adalah Tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental tergantung Pengamatan manusia pada kawasannya sendiri, dan berhubungan dengan orang –orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya.
Pertimbangan peneliti menggunakan penelitina dengan metode Kualitatif sebagaimana yang di ungkapkan oleh Lexy Moleong:
a.       Menyesuaikan metode Kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda.
b.      Metode ini secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden atau masyarakat.
c.        Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama pola-pola nilai yang di hadapi.
Jadi penelitian ini termasuk penelitian Deskriptif menurut Witney dalam Moh. Nazir bahwa Metode Deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian Deskriptif meneliti tentang masalah- masalah masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk dalam hubungan, kegiatan ,sikap, pandangan serta proses yang sedang berlangsung pada suetu fenomena.

3.      Lokasi Penelitian
Lokasi penenelitian merupakan tempat dimana penelitian akan dilakuakan dengan tujuan mendapatkan data-data atau informasi yang di butuhkan.
Tempat penelitian : Jalan Sempu Nusa Indah Rt 05/18, Kelurahan Cipare, Kabupaten Serang, Provinsi Banten

4.      Sumber Data 
4.1. Data Primer Menurut S. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai. Peneliti menggunakan pendekatan data ini untuk mengetahui secara langsung bertanya-tanya kepada warga setempat tentang selametan nujuh bulanan. Dari hasil wawancara yang di lakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa adat budaya tersebut tersebut muncul merupakan kebudayaan yang ada sejak nenek moyang. Tradisi tersebut diajarkan dengan maksud keselamatan bagi bayi yang ada dalam kandungan ibunya.
4.2. Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya. Data sekunder juga dapat berupa majalah, buletin, publikasi dari berbagai organisasi, lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian, hasil-hasil studi, tesis, hasil survey, studi histories, dan sebagainya. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat hipotesa tentang tradisi yang ada di tempat tersebut, melalui wawancara terhadapa salah satu warga yang bernama ibu tugor.

5.       Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian, karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.
5.1.Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).
Tujuan penulis menggunakan metode ini, untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret tentang sumber informasi yang ada.
Seperti kutipan wawancara saya dengan ibu tugo hari Rabu tanggal 18 November 2015
Pewawancara : Assalamualaikum....
Ibu tugo : waalaikumsalam...
Pewawancara: maap bu ganggu saya maha siswa dari UNTIRTA
ditugaskan untuk melakukan penelitian terhadap tradisi yang ada di
disini
Ibu : silahkan,, disini ada tradisi nujuh bulanan neng
Pewawancara; oh tradisi nujuh bulanan ya bu, apa itu bu ?
Ibu : ya, begitu kalau ada orang hamil berusia 7 bulan, pasti diadakan
acara nujuh bulanan, gunanya memohon pertolongan kepada Tuhan
supaya bayi yang ada di dalam kndungan diberikan kesehatan dan
erhindar dari apa-apa yang tidak di kehendaki.
Pewawancara : lalu kenapa apa saja yang dilakukan dalam acara itu bu?
Ibu : pertama itu dilakukan pengajian al-quran 9surat Yusuf dan surat
Mariyam), lalu kita berdoa, setelah itu orang yang hamil disiram, dan
setelah semua beres tamu makan hidangan yang telah di sediakan oleh
tuan rumah
Pewawancara : bu, boleh tau gak kenapa harus dibacakan surat Yusuf
sama Mariyam saja tidak surat yang lain?
Ibu : ya karena supaya bayi dapat meneladani sifat dan memiliki paras
yang rupawan seperti Nabi Yusuf jika anaknya laki-laki. Sedangkan
surat mariyam supaya bayinya cantik jika anaknya perempuan.
Pewawancara : oh seperti itu ya bu. Yasudah, sudah cukup informasi
yang saya dapatkan. Mohon maap bila saya mengganggu ibu. Atas
infonya terimaksih ya bu. Assalamualaikum,,,
Ibu ; iya sma-sama neng. Waalaikumslam.

6.      Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Dari rumusan di atas dapatlah kita tanarik garis besar bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, komentar peneliti, gambar, foto, dokumen berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan diatas, maka peneliti akan mengolah dan menganalisi data dengan menggunakn analisis secara Deskriptif-Kualitatif.
Deskriptif-Kualitatif Merupakan suatu teknik yang menggambarkan menginterpretasikan data –data yang terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek yang situasi yang di teliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum. Menurut M. Nazir bahwa tujuan Dekriptif ini adalah untuk membuat gamabaran atau lukisan secara sistematis , akurat dan faktual mengenai suatu kebudayan yang terselidiki.
















BAB IV
PENUTUP
1.       Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan maka dapat di tarik kesimpulan bahwa:
1.      Sebuah kebudayaan yang bearda di suatu daerah tertentu misalanya “tradisi nujuh bulan“ memberikan pengertian tersendiri bahwa suatu tradisi tersebut memiliki identitas terhadap budayanya.
2.      Tujuan dari tradidi nujuh bulan memohon keselamatan kepada Allah SWT, dan bermanfaat agar anak yang dikandung akan lahir dengan gangsar (mudah), sehat, selamet, fisik yang sempurna, dan tidak ada gangguan apa-apa. Selametan ini juga akan membuat ibu hamil percaya diri, menguatkan ibu dalam masa transisi perubahan peran menjadi seorang ibu, merubah cara pandang ibu terhadap perubahan tubuh selama kehamilan, meningkatkan rasa aman dan ras dihargai.



2.      Saran
Apabila kita lihat sekarang pada zaman modern ini, banyak sekali dari beberapa kalangan yang kurang perduli tentang kebudayan khususnya Mahasiawa. Maka perlunya sebuah kesadaran mengeni betapa pentingnya Arti dari sebuah kebudayaan. Bahwa kebudayaan merupakan identitas dari suatu daerah tersebut.
Lebih baik menjaga kebudayaan yang telah ada dan terus
mengembangkannya selama tidak menyalahi atau melanggar aturan dan
ketentuan-ketentuannya.


DAFTAR PUSAKA

Koentjaraningrat.2003.Pengantar Antropologi I. Rieneka Dcipta: Jakarta
Sholikhin,Muhammad.2010.Ritual & Tadisi Islam Jawa,Jakarta: PT.Gramedia
Nazir, Moh.2003.Metode Penelitian.Jakarta: PT. Ghalia Indonesia, 2003
Nasution,S.2004. Metode Research. Jakarta : Bumi Aksara
Lexy J, Moleong.1991.Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya
http://muhammadnashrulloh.blogspot.co.id/2013/11/tradisi-adat-jawa-dalam-prosesi-mitoni.html