BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar
belakang
Dalam kehidupan masyarakat tentunya tidak lepas dari
suatu kebudayaan atau tradisi, dimana kebudayaan tersebut dihasilkan oleh
masyarakat sendiri. Kebudayaan muncul merupakan hasil prilaku masyarakat yang
sering kali dilakukan. Kebudayaan merupakan cerminan dari identitas atau ciri
khas suatu masyarakat tertentu.
Mengutuip dari kebudayaan menurut Koentjaraningrat
“kebudayaan adalah seluruh gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang
dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Serta dari kebudayaan dapat
tampak suatu watak (ethos). Seperti yang tampak misalnya, gaya tingkah laku,
atau benda-benda hasil karya asyarakat.
Suatu tradisi merupakan warisan nenek moyang secara
temurun dan tentunya memiliki makna dan tujuan tersendiri. Kepercayaan nenek
moyang yang kental tentu mempengaruhi bagaimana tradisi itu tercipta bahkan
hingga kini masih dipertahankan, walaupun kebudayaannya sudah bercampur dengan
kebudayaan lainnya. Adapun kepercayaan nenek moyang tentang kekuatan (animisme,
dinamisme), dan adapula tradisi masyarakat berupa upacara adat istiadat.
2. Rumusan
masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah di papar di
atas saya akan mengangkat beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu
sebagai berikut :
1. Bagaimana
tradisi nujuh bulanan di kampung sempu bisa muncul ?
2. Mengapa
tradisi itu dipertahankan ?
3. Bagaimana
tatacara melakukan tradisi tersebut ?
4. Kaitan
Nujuh Bulan Dengan Ajaran Islam ?
3. Tujuan
penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ni dilakukan
diantaranya, adalah Untuk mengetahui tradisi yang ada di kampung sempu ini yang
menjadi identitas atau ciri khas disana.
Untuk mengetahui mengapa trdisi nujuhbulanan ini
muncul di kampung tersebut.
Mengetahui makna atau arti penting dari sebuah
tradisi yang ada di kampung tersebut
4. Manfaat
penelitian
Dari tujuan di adakannya penelitian, maka adapun
manfaat penelitiannya adalah sabagai berikut :
Bagi saya sendiri, dapat mengetahui sebuah tradisi
yang ada di kampung ini, sehingga dapat saya cirikan bahwa tradisi nujuhbulanan
ada di sini.
Memotivasi bagi masyarakat agar dapt menjaga sebuah
tradisi atau kebudayaan yang ada agar tidak hilang dimakan oleh, dan tetap
diturunkan kepada anak cucunya.
Perlunya sebuah kesadaran dan kepedulian terhadap
kebudayaan.
5. Metode
penulisan
Untuk mendapatkan informasi dan data yang
diperlukan, penulis melakukan metode, wawancara dan kepustakan internet.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
1. KAJIAN
TEORI
1.1 Definisi
kebudayaan
Kebudayaan
adalah seluruh gagasan dan rasa, tindakan serta karya yang di hasilkan manusia
dalam kehidupan bermasyarakat. Serta dari kebudayaa dapat tampak suatu watak
(ethos). Seperti yang tampak misalnya, gaya tingkah laku, atau benda-benda
hasil karya masyarakat. Sedangkan tradisi dalam bahasa latin “traditio” artinya
“diteruskan”. Tradisi adalah kebiaasaan yang dianut oleh masyarakat danberlangsung
sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu
kelompok masyarakat, biasanya dari
suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama.
Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang
diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa
adanya ini, suatu tradisi dapat punah.
Tradisi
nujuh bulan diartikan sebagai upacara sedekah makanan dan doa bersama, yang
bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketenraman untuk keluarga yang
menyelenggarakan.
Selametan
sendiri berasal dari kata selamet, yang berarti selamat, bahagia, sentausa.
Selamat dapat dimaknai sebagai keadaan yang lepas dari keadaan-keadaan yang
tidak dikehendaki. Sehingga selametan bisa diartikan sebagai kegiatan
masyarakat yang biasanya di gambarkan sebagai pesta ritual, baik upacara
dirumah maupun di desa. Upacara slametan termasuk kegiatan batiniah yang
bertujuan untuk mendapatkan ridho dar Tuhan. Kegiatan slametan menjadi tradisi
hampir seluruh kehidupan di pedusunan Jawa. Bahkan ada yang mempercayai bahwa
slametan adalah syarat spiritual yang wajib dilakukan dan jika dilanggar akan
mendapatkan ketidakberkahan atau kecelakaan.
Selametan
nujuh bulan bisa disebut dengan mithoni atau tingkeuban. Disebut mithoni,
karena upacara dilaksanakan pada saat kandungan berusia 7 bulan. Dalam bahasa
jawa tujuh adalah pitu maka jadilah sebutan mithoni. Disebut tingkeuban yakni,
slametan kehamilan usia 7 bulan dimana “sudah tingkeb” yang artinya ” tutup” ,
maksudnya si bu yang sedang mengandung 7 bulan tidak boleh bercampur dengan
suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalina, dan jangan bekerja terlalu
berat karena bayi yang sedang di kandung sudah mulai besar. Hal ini dilakukan
untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selametan
bulan ke tujuh kehamilan biasanya dilakukan oleh orang jawa yang sering disebut
tradisi mithoni. Tujuan utama tradisi slametan nujuh bulan yang sudah berlangsung
turun-temurun ini adalah memohon kepada Tuhan agar ibu yang hamil dan bayi
dalam kandungannya selamat hingga lahir.
1.2 Asal
Usul Selamatan Nujuh Bulan
Tradisi
nujuh bulanan yaitu upcara tradisional selametan terhadap bayi yang masih di
dalam kandungan selama tujuh bulan. Tradisi ini berawal dari pemerintahan
Jayabaya. Pada waktu itu ada seorang wanita yang bernama niken satingkeb
bersuami seorang pemuda bernama sadiya. Keluaga ini telah melahirkan anak
sebanyak sembilan kali, namun satupun tidak ada yang hidup. Karena itu keduanya
segera menghadap raja kediri, yaitu Prabu Widayaka (Jayabaya). Oleh sang raja
keluarga tersebut disarankan agar menjalankan tiga hal, yakni : setiap hari
Rabu dan Sabtu, pukul 17.00, diminta mandi menggunakan tengkorak kepala, sambil
mengucap mantera : “hong hyang hyanging amarta martini sinartan huma,
hananingsun hiya hananing jatiwasesa. Wisesaning hyang iya wisesaningsun.
Ingsun pudya sampurna dadi manungsa”.
Setelah
mandi lalu ganti pakaian yang bersih, cara berpakaian dengan cara menggembol
kepala gading yang dihiasi Sanhyang Kamajaya dan Kamaratih atau Sanghyang Wisnu
dan Dwi Sri, lalu dibrojolkan ke bawah. Kepla muda tersebut diikat, menggunakan
daun tebu tulak (hitam dan putih ) selembar. Setelah kelapa gading tadi
diberojolkan, lalu diputuskan menggunakan sebilah keris oleh suaminya.
Ketiga
hal di atas, tampaknya yang menjadi masyarakat ini menjalankan selamatan
tingkeban sampai sekarang. Sejak saat itu ternyata Niken bisa hamil dan anaknya
hidup. Hal ini merupankan lukisan bahwa orang yang ingin mempunyai anak, perlu
melakukan kesucian atau kebersihan. Niken satingkeb sebagai wadah harus suci,
tidak boleh ternoda, maka dari itu harus dibersihkan dengan mandi keramas.
Akhirnya sejak saat itu apabila ada orang hamil, apalagi hamil pertama,
dilakukan tingkeban atau mithoni. Tradisi ini merupakan langkah permohonan
dalam selametan.
Batas
tujuh bulan, sebenarnya merupakan simbol budi pekerti agar hubungan suami istri
tidak lagi dilakukan agar anak yang akan lahir tidak terganggu.
1.3 Tatacara
Selametan Nujuh Bulan
Mithoni
atau selametan tujuh bulanan, dilakukan setelah kehamilan seorang ibu genap
usia 7 bulan atau lebih. Dilaksanakan tidak boleh kurang dari 7 bulan,
sekalipun kurang sekali. Tujuan mithoni agar supaya ibu dan janin selalu di
jaga dalam kesejahteraan dan keselamatan.
Mithoni
tidak dapat diselenggarakan sewaktu-waktu, biasanya memilih hari yang dianggap
baik untuk menyelenggarakan upacara mithoni. Hari baik untuk acara mithoni
adalah hari selasa (senin siang sampai malam), atau sabtu (jumat siang sampai
malam) dan diselenggarakan pada waktu siang atau sore hari. Sedangkan tempat
untuk menyelenggarakan upacara biasanya di ruang keluarga atau ruang yang
mempunyai luas yang cukup untuk menyelenggarakan upacara.
Pertama,
pengajian dengan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, terutama surat Yusuf dan
surat Mariyam, serta memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembacaan
surat Yusuf dimaksudkan agar bayi yang akan lahir kelak akan meneladani
sifat-sifat Nabi Yusuf, serta memiliki paras yang rupawan seperti Nabi Yusuf jika
laki-laki. Sedangkan dibcakannya surat Mariyam agar bayi yang akan di lahirkan
kelak memiliki paras cantik seprti Mariyam.
Kedua,
siraman yang dilakukan oleh sepupu dan suami. Tradisi siraman ini dilakukan
dengan cara memandikan wanita hamil menggunakan sekar setaman oleh para
sepupuh. Sekar setaman adalah air suci yang diambil dari tujuh mata air yang
kemudian dicampurkan dengan bunga. Sepupuh yang bertugas menyiram tujuh orang
di tambah suaminya sendiri. Siraman merupakan gambaran agar kelahiran bayi
kelak suci bersih. Bilangan tujuh, sebernanya terkait dengan umur kandungan
tujuh bulan. Tujuh juga berasal dari bahsa Jawa “pitu”, berati “pitulung”
artinya, agar kalak bayi dapt lahir dengan mendapat pertolongan Tuhan.
Ketiga,
setelah siraman selesai, dilakukan tradisi memasukkan telur ayam kampung ke
dalam kain wanita hamil oleh sang suami melalui perut sampai menggelinding ke
bawah dan pecah. Hal ini sebagai simbol dan harapan semoga bayi yang akan lahir
mendapat kemudahan, seperti menggelindingnya telur tadi. Pecahnya telur juga
berarti keluarnya bayi dari kandungan ibu. Hal ini tidak jauh dengan seekor
ayam yang menetas dari sbuah telur, bayi pun setelah bertapa dalam kandungan
ibu lalu ia keluar. Kadang-kadang jika
sulit mendapatkan telur, di ganti dengan tropong (alat untuk mengikat benang
tenun). Hal ini juga berarti supaya ketika bayi lahir mudah tidak ada halangan.
Keempat,
upacara ganti pakaian 7 kali dengan 7 motif yang berbeda, calon ibu mengenakan
kain putih sebagai dasar pakaian pertma, kain tersebut melambangkan bahwa bayi
yang dilahirkan suci dan mendapat berkah dari Tuhan.
Kelima,
kenduri sebagai syukuran. Ada beberapa sasaji yang harus di siapkan:
a. Bubur
7 macam
b. Gudangan
mateng (sayuran direbus)
c. Nasi
megono; nasi dicampur bumbu gudangan pedes lalu dikukus
d. Jajanan
pasar; berisi 7 macam makanan
e. Rujak
7 macam buah-buahan
f. Tumpeng
nasi putih
g. Telur
ayam 7 butir
h. Pisang
raja
i.
Tumpeng 7 macam warna
Setelah itu di makan bersama oleh para
tamu yang hadir di acara selametan nujuh bulan yang diadakan oleh tuan rumah.
1.4 Makna
yang terkandung dalam unsur mithoni atau nujuh bulanan bagi masyarakat kampung
sempu
Upacara-upaca
mithoni, yaitu upacara yang diselenggarakan ketika kandungan berusia tujuh bulan,
yang menjadikan tradisi ini bisa bertahan karena didalamnya menganut yang baik,
dan menurutnya apa salahnya memohon pertolongan atau berdoa bersama, sama-sama
mendoakan supaya bayi yang ada di dalam kandungan diberikan kesehatan dan
keselamatan sampai ia dilahirkan.
memiliki
simbol-simbol atau makna sebagi berikut :
a. Sajen
tumpeng, maknanya adalah pemujaan pada arwah leluhur yang sudah tidak ada.
b. Sajen
gudangan, maknanya adalah agar calon bayi selalu dalam keadaan segar
c. Kain
dengan tujuh motif, melambangkan kebaikan yang diharapkan bgi ibu yang
mengandung
d. Sajen
telur, berupa ramalan, bahwa kalau telur pecah, maka bayi yang lahir adalah
perempuan dan jika tidak pecah maka bayinya laki-laki
1.5.Tujuan
Dan Manfaat Diadakan Nujuh Bulan
Memohon
keselamatan kepada Allah SWT, dan bermanfaat agar anak yang dikandung akan
lahir dengan gangsar (mudah), sehat, selamet, fisik yang sempurna, dan tidak
ada gangguan apa-apa. Selametan ini juga akan membuat ibu hamil percaya diri,
menguatkan ibu dalam masa transisi perubahan peran menjadi seorang ibu, merubah
cara pandang ibu terhadap perubahan tubuh selama kehamilan, meningkatkan rasa
aman dan ras dihargai.
1.6.
Kaitan Nujuh Bulan Dengan Ajaran Islam
Secara
nyata di dalam al-Qur’an tidak ada petunjuk untuk melakukan tradisi tersebut,
sehingga ada yang mengatakan bid’ah atau sesat. Sebenarnya pelaksanaan mithoni
berangkat dari memahmi hadits Nabi yang diriwayatkan oleh bukhori, yang
menjelaskan tentang proses perkembangan janin dalam rahim. Dalam hadis tersebut
dinyatakan bahwapada saat janin berumur 120 hari (4 bulan) dalam kandungan
ditiupkan ruh dan di tentukan 4 perkara, yaitu umur, jodoh, rizki, dan
nasibnya. Sekalipun dalam hadits tersebut tidak ada perintah untuk melakukan
ritual, tetapi untuk memehon pertolongan pada saat itu tidak dilarang.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
1. Definisi Metode Penelitian
Metode ( yunani : metodos, metode) adalah cara atau
jalan, yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu
yang bersangkutan .( Koentjaraningrat, metode-metode penelitian masyarakat,
garmedia.1997: hl.16).
Metode merupakan aspek yang sangat
penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian,
terutama untuk mengumpulkan data. Sebab data yang diperoleh dalam suatu
penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian.
Menurut Hadi, penelitian adalah
usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan dengan
menggunakan metode-metode ilmiah. Dengan upaya mendapatkan dan mengumpulkan
data dari kegiatan penelitian.
2. Pendekatan
Dalam Penelitian
Dalam penelitian pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan kualitatif. Dimana data yang dikumpulkan bukan merupakan
angka-angka, melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara. Sehingga
dalam penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita dibalik fenomena.
Menurut Keirl dan Meiller dalam Moleong yang di maksudkan dengan Penelitian Kualitatif adalah Tradisi
tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental tergantung
Pengamatan manusia pada kawasannya sendiri, dan berhubungan dengan orang –orang
tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya.
Pertimbangan peneliti menggunakan penelitina dengan metode Kualitatif
sebagaimana yang di ungkapkan oleh Lexy Moleong:
a. Menyesuaikan
metode Kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda.
b. Metode ini
secara tidak langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden atau
masyarakat.
c. Metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri
dengan manajemen pengaruh bersama pola-pola nilai yang di hadapi.
Jadi
penelitian ini termasuk penelitian Deskriptif menurut Witney dalam Moh. Nazir
bahwa Metode Deskriptif adalah
pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian Deskriptif meneliti tentang masalah- masalah
masyarakat, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi
tertentu, termasuk dalam hubungan, kegiatan ,sikap, pandangan serta proses yang
sedang berlangsung pada suetu fenomena.
3.
Lokasi Penelitian
Lokasi
penenelitian merupakan tempat dimana penelitian akan dilakuakan dengan tujuan
mendapatkan data-data atau informasi yang di butuhkan.
Tempat penelitian : Jalan Sempu Nusa Indah Rt 05/18, Kelurahan Cipare, Kabupaten Serang, Provinsi
Banten
4.
Sumber Data
4.1. Data Primer Menurut S. Nasution data primer adalah data yang
dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian. Sedangkan menurut
Lofland bahwa
sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan.
Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan
dengan mengamati atau mewawancarai. Peneliti menggunakan pendekatan data ini
untuk mengetahui secara langsung bertanya-tanya kepada warga setempat tentang
selametan nujuh bulanan. Dari hasil wawancara yang di lakukan oleh peneliti
menunjukkan bahwa adat budaya tersebut tersebut muncul merupakan kebudayaan
yang ada sejak nenek moyang. Tradisi tersebut diajarkan dengan maksud keselamatan
bagi bayi yang ada dalam kandungan ibunya.
4.2. Data
sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam
sumber lainnya. Data sekunder juga dapat berupa majalah, buletin, publikasi
dari berbagai organisasi, lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti
kementrian-kementrian, hasil-hasil studi, tesis, hasil survey, studi histories,
dan sebagainya. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat
hipotesa tentang tradisi yang ada di tempat tersebut, melalui wawancara
terhadapa salah satu warga yang bernama ibu tugor.
5.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan langkah
yang sangat penting dalam penelitian, karena itu seorang peneliti harus
terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. Pengumpulan
data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang
diperlukan.
5.1.Wawancara
Wawancara
adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya
jawab, sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan
menggunakan alat yang dinamakan interview
guide (panduan wawancara).
Tujuan
penulis menggunakan metode ini, untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret
tentang sumber informasi yang ada.
Seperti kutipan
wawancara saya dengan ibu tugo hari Rabu tanggal 18 November 2015
Pewawancara :
Assalamualaikum....
Ibu tugo :
waalaikumsalam...
Pewawancara:
maap bu ganggu saya maha siswa dari UNTIRTA
ditugaskan
untuk melakukan penelitian terhadap tradisi yang ada di
disini
Ibu :
silahkan,, disini ada tradisi nujuh bulanan neng
Pewawancara;
oh tradisi nujuh bulanan ya bu, apa itu bu ?
Ibu : ya,
begitu kalau ada orang hamil berusia 7 bulan, pasti diadakan
acara nujuh
bulanan, gunanya memohon pertolongan kepada Tuhan
supaya bayi
yang ada di dalam kndungan diberikan kesehatan dan
erhindar
dari apa-apa yang tidak di kehendaki.
Pewawancara :
lalu kenapa apa saja yang dilakukan dalam acara itu bu?
Ibu :
pertama itu dilakukan pengajian al-quran 9surat Yusuf dan surat
Mariyam),
lalu kita berdoa, setelah itu orang yang hamil disiram, dan
setelah
semua beres tamu makan hidangan yang telah di sediakan oleh
tuan rumah
Pewawancara :
bu, boleh tau gak kenapa harus dibacakan surat Yusuf
sama Mariyam
saja tidak surat yang lain?
Ibu : ya
karena supaya bayi dapat meneladani sifat dan memiliki paras
yang rupawan
seperti Nabi Yusuf jika anaknya laki-laki. Sedangkan
surat
mariyam supaya bayinya cantik jika anaknya perempuan.
Pewawancara :
oh seperti itu ya bu. Yasudah, sudah cukup informasi
yang saya
dapatkan. Mohon maap bila saya mengganggu ibu. Atas
infonya
terimaksih ya bu. Assalamualaikum,,,
Ibu ; iya
sma-sama neng. Waalaikumslam.
6.
Analisis Data
Analisis data adalah proses
mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan
uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja
seperti yang disarankan oleh data.
Dari rumusan di atas dapatlah kita
tanarik garis besar bahwa analisis data bermaksud pertama-tama
mengorganisasikan data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari
catatan lapangan, komentar peneliti, gambar, foto, dokumen berupa laporan,
biografi, artikel, dan sebagainya. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan
menggunakan metode pengumpulan diatas, maka peneliti akan mengolah dan
menganalisi data dengan menggunakn analisis secara Deskriptif-Kualitatif.
Deskriptif-Kualitatif
Merupakan
suatu teknik yang menggambarkan menginterpretasikan data –data yang terkumpul
dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek yang situasi
yang di teliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum. Menurut
M. Nazir bahwa tujuan Dekriptif ini adalah untuk membuat gamabaran atau lukisan
secara sistematis , akurat dan faktual mengenai suatu kebudayan yang
terselidiki.
BAB
IV
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan maka dapat di tarik kesimpulan
bahwa:
1. Sebuah
kebudayaan yang bearda di suatu daerah tertentu misalanya “tradisi nujuh bulan“
memberikan pengertian tersendiri bahwa suatu tradisi tersebut memiliki
identitas terhadap budayanya.
2. Tujuan
dari tradidi nujuh bulan memohon keselamatan kepada Allah SWT, dan bermanfaat
agar anak yang dikandung akan lahir dengan gangsar (mudah), sehat, selamet,
fisik yang sempurna, dan tidak ada gangguan apa-apa. Selametan ini juga akan
membuat ibu hamil percaya diri, menguatkan ibu dalam masa transisi perubahan
peran menjadi seorang ibu, merubah cara pandang ibu terhadap perubahan tubuh
selama kehamilan, meningkatkan rasa aman dan ras dihargai.
2. Saran
Apabila kita
lihat sekarang pada zaman modern ini, banyak sekali dari beberapa kalangan yang
kurang perduli tentang kebudayan khususnya Mahasiawa. Maka perlunya sebuah
kesadaran mengeni betapa pentingnya Arti dari sebuah kebudayaan. Bahwa
kebudayaan merupakan identitas dari suatu daerah tersebut.
Lebih baik
menjaga kebudayaan yang telah ada dan terus
mengembangkannya
selama tidak menyalahi atau melanggar aturan dan
ketentuan-ketentuannya.
DAFTAR
PUSAKA
Koentjaraningrat.2003.Pengantar
Antropologi I. Rieneka Dcipta: Jakarta
Sholikhin,Muhammad.2010.Ritual
& Tadisi Islam Jawa,Jakarta: PT.Gramedia
Nazir, Moh.2003.Metode Penelitian.Jakarta:
PT. Ghalia Indonesia, 2003
Nasution,S.2004. Metode Research. Jakarta
: Bumi Aksara
Lexy J, Moleong.1991.Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosda Karya
http://muhammadnashrulloh.blogspot.co.id/2013/11/tradisi-adat-jawa-dalam-prosesi-mitoni.html